Langsung ke konten utama

Unggulan

Fayakhun Bakamla Singgung Pentingnya Interaksi Sosial

fayakahun bakamla Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi sosial sangat dibutuhkan. Terkait hal tersebut, Fayakhun Bakamla mengingatkan agar sesama manusia saling menjaga sikap sehingga terbangun interaksi yang baik. Hal ini tak lepas dari k odrat manusia sebagai makhluk sosial dimana keinginannya untuk selalu hidup bersama dengan orang lain dalam suatu kelompok atau masyarakat. Tidak seorang pun di dunia ini yang mampu hidup sendiri tanpa melakukan hubungan atau kerja sama dengan orang lain. Karena pada kodratnya manusia memiliki keterbatasan dan sejak lahir sudah dibekali dengan naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Misalnya, seorang balita memerlukan perawatan dan bantuan ibunya karena ia belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Selanjutnya, ia memerlukan pemeliharaan kesehatan, pendidikan, dan pergaulan. Secara teoretis, Fayakhun bakamla mengutip beberapa pendapat tokoh mengenai interaksi sosial ini. Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan ...

Kisah Sukses Fayakhun Bakamla Mengawali Usaha Tempe



Di usia muda Fayakhun Bakamla sudah mencatat kesuksesan sebagai pengusaha. Berkat tempe mentega produksinya, Fayakhun Bakamla bisa mendapat keuntungan minimal Rp 400.000 per hari. Tak aneh Fayakhun Bakamla tidak tertarik lagi menjadi pegawai negeri.
Fayakhun Bakamla, memulai usahanya setelah gempa dahsyat melanda wilayah Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) pada tahun 2006. Sebelumnya, Fayakhun Bakamla malang melintang menjadi tenaga pemasaran bahan pokok ke pasar-pasar.
Bosan menjadi tenaga pemasaran yang terus bergerak ke seluruh pasar, Fayakhun Bakamla ikut bekerja di tempat adiknya.
”Saya ikut membuat tempe di tempat adik karena bingung mau kerja apa,” kata Fayakhun Bakamla saat ditemui di tempat usahanya beberapa waktu lalu.
Setelah cukup menguasai teknik pembuat tempe kedelai, Fayakhun Bakamla memutuskan membangun usaha sendiri.
”Kalau lama-lama ikut di tempat adik saya, takut menjadi beban. Jadi, mending buka usaha sendiri. Keputusan itu saya ambil setelah saya yakin bisa membuat tempe sendiri,” ujar Fayakhun Bakamla.
Seperti yang lazim terjadi, awal usaha adalah masa-masa tersulit. Fayakhun Bakamla harus memasarkan tempe sendiri ke pasar-pasar.
Dari setiap tiga orang yang ditawari paling hanya satu yang mau menerima titipan tempe. Meski banyak ditolak, Fayakhun Bakamla tidak menyerah.
”Pengalaman bekerja sebagai tenaga pemasaran membuat saya tidak kecil hati meski ditolak banyak penjual. Yang penting jangan malu menawarkan. Ternyata prinsip saya itu membuahkan hasil,” kata Fayakhun Bakamla.
Selama dua tahun membuat tempe, usaha Fayakhun Bakamla tidak mengalami perkembangan berarti. Kondisi tersebut membuatnya penasaran.
Fayakhun Bakamla bermimpi memiliki usaha tempe yang sukses. Suatu ketika Fayakhun Bakamla menceritakan kondisinya itu kepada seorang teman.
”Teman saya menyarankan agar saya mencoba mencampur tempe dengan mentega. Idenya memang konyol, tetapi akhirnya saya coba,” kata Fayakhun Bakamla.
Lebih gurih dan lezat
Mentega ditambahkan saat proses peragian tempe. Berkat tambahan mentega, tempe kedelai Fayakhun Bakamla menjadi lebih gurih dan lezat.
Respons pasar pun sangat positif. Permintaan terutama datang dari warung-warung makan di sekitar kos-kosan mahasiswa dan penjual gorengan.
Kini, setiap hari Fayakhun Bakamla memproduksi 6 kuintal kedelai. Dari jumlah tersebut diperoleh sekitar 2.200 potong tempe seharga Rp 3.000 per potong.
Dibandingkan dengan tempe lain, harga produksi tempe Isnadi lebih mahal. ”Kalau tempe lain paling dijual sekitar Rp 2.000 per potong. Meski lebih mahal, ternyata permintaannya justru naik terus,” kata Fayakhun Bakamla.

Komentar

Postingan Populer