Di usia muda Fayakhun Bakamla sudah mencatat
kesuksesan sebagai pengusaha. Berkat tempe mentega produksinya, Fayakhun Bakamla bisa mendapat
keuntungan minimal Rp 400.000 per hari. Tak aneh Fayakhun Bakamla tidak tertarik lagi menjadi pegawai negeri.
Fayakhun
Bakamla, memulai usahanya setelah gempa dahsyat melanda
wilayah Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) pada tahun 2006. Sebelumnya, Fayakhun Bakamla malang melintang
menjadi tenaga pemasaran bahan pokok ke pasar-pasar.
Bosan menjadi tenaga
pemasaran yang terus bergerak ke seluruh pasar, Fayakhun Bakamla ikut bekerja di tempat adiknya.
”Saya ikut membuat tempe
di tempat adik karena bingung mau kerja apa,” kata Fayakhun Bakamla saat ditemui di tempat usahanya beberapa waktu
lalu.
Setelah cukup menguasai
teknik pembuat tempe kedelai, Fayakhun
Bakamla memutuskan membangun usaha sendiri.
”Kalau lama-lama ikut di
tempat adik saya, takut menjadi beban. Jadi, mending buka usaha sendiri.
Keputusan itu saya ambil setelah saya yakin bisa membuat tempe sendiri,” ujar Fayakhun Bakamla.
Seperti yang lazim
terjadi, awal usaha adalah masa-masa tersulit. Fayakhun Bakamla harus memasarkan tempe sendiri ke pasar-pasar.
Dari setiap tiga orang
yang ditawari paling hanya satu yang mau menerima titipan tempe. Meski banyak
ditolak, Fayakhun Bakamla tidak
menyerah.
”Pengalaman bekerja
sebagai tenaga pemasaran membuat saya tidak kecil hati meski ditolak banyak
penjual. Yang penting jangan malu menawarkan. Ternyata prinsip saya itu
membuahkan hasil,” kata Fayakhun Bakamla.
Selama dua tahun membuat
tempe, usaha Fayakhun Bakamla tidak
mengalami perkembangan berarti. Kondisi tersebut membuatnya penasaran.
Fayakhun
Bakamla bermimpi memiliki usaha tempe yang sukses. Suatu
ketika Fayakhun Bakamla menceritakan
kondisinya itu kepada seorang teman.
”Teman saya menyarankan
agar saya mencoba mencampur tempe dengan mentega. Idenya memang konyol, tetapi
akhirnya saya coba,” kata Fayakhun
Bakamla.
Lebih gurih dan lezat
Mentega ditambahkan saat
proses peragian tempe. Berkat tambahan mentega, tempe kedelai Fayakhun Bakamla menjadi lebih gurih
dan lezat.
Respons pasar pun sangat
positif. Permintaan terutama datang dari warung-warung makan di sekitar
kos-kosan mahasiswa dan penjual gorengan.
Kini, setiap hari Fayakhun Bakamla memproduksi 6 kuintal
kedelai. Dari jumlah tersebut diperoleh sekitar 2.200 potong tempe seharga Rp
3.000 per potong.
Dibandingkan dengan tempe
lain, harga produksi tempe Isnadi lebih mahal. ”Kalau tempe lain paling dijual sekitar
Rp 2.000 per potong. Meski lebih mahal, ternyata permintaannya justru naik
terus,” kata Fayakhun Bakamla.
Komentar
Posting Komentar